IMG-LOGO
Flash News :
Opini

Nasab Keilmuan Pesantren

oleh Admin - 1 detik yang lalu Dilihat 26 kali 0 Komentar
IMG

Oleh Hadi Pranoto





Jika di satu kesempatan kamu bertemu dengan orang sakti; bisa terbang ,berjalan di atas air dan lain sebagainya,jangan percaya dulu bahwa dia waliyullah yang diberi karomah,sebelum kamu lihat bagaimana kehidupan sehari-harinya dalam menjalankan syariat,sudah sesuai syariat atau malah sebaliknya.





Begitulah kira-kira apa yang telah dipesankan oleh seorang sufi besar, Abu Yazid al-Bustomi yang hidup di tahun 188 Hijriyah dan meninggal tahun 261 Hijriah berkebangsaan Persia.Seorang sufi besar yang mampu mempertemukan antara tasawuf dan fikih.Jika fakta dari sebuah kemampuan adikodrati saja kita dianjurkan untuk tidak mudah percaya bagaimana jika itu hanya sebuah ungkapan dan sebatas pengakuan saja,semisal orang yang mengaku bertemu atau berguru secara langsung,kepada wali-wali tertentu yang sudah meninggal ratusan tahun silam,atau bahkan berguru langsung kepada baginda Nabi saw.





Nasab keilmuan merupakan poin penting dalam bersyariat,agar yang kita tahu tentang ajaran agama bersambung bagai mata rantai.Belajar dari guru di musholla,di masjid,di Pesantren,dimana guru tersebut juga belajar demikian kepeda gurunya,gurunya belajar kepada gurunya lagi hingga terus menerus bagai tali yang tak terputus hingga sampai ke haribaan Nabi saw sebagai sumber utama penerima ajaran.Inilah tradisi yang dijaga Ahlussunnah wal-jamaah dari dulu hingga sekarang.





Kesempatan bersama guru ,jelas tidak akan selamanya kita dapatkan,ada yang beberapa hari saja bertemu kemudian terpisah,kemudian mengembangkan keilmuaannya dengan belajar otodidak,di internet dan lain sebagainya.Apakah hal tersebut masih dikatakan keilmuannya bernasab atau bagaimana?





Untuk menjadi bagian nasab dari keilmuan tadi kita harus bersama guru secara terus-menerus.Dalam pengertian bersama secara pemahaman meskipun fisik tidak selalu bertemu.Pertemuan fisik adalah syarat untuk lebih menguatkan ikatan batiniah dan legitimasi melengkapi posisi ke-murid-annya.Karena jika hanya pemahaman saja yang sama tapi tidak pernah bertemu secara fisik maka dia tidak termasuk muridnya sang guru,lebih tepatnya sebagai pengikut.Contoh Uwais al-Qorni,meskipun hidup di masa Nabi saw dan berpemahaman agama seperti yang diajarkan Nabi,beliau tetap tidak masuk dalam katagori sahabat melainkan Tabi’in,karena Uwais al-Qorni tidak pernah bertemu secara fisik dengan Nabi saw.





Pentingnya pertemuan fisik dengan guru meskipun sekejap sudah menjadi legitimasi kemuridannya,lalu membangun pemahaman pemikiran yang sejalan dan ikatan batiniah,lengkap sudah nasab keilmuannya.





Bertemu secara fisik,tapi tidak memiliki ikatan pemahaman yang sejalur juga tidak bisa disebut sebagai murid dan pengikut.Contoh abu jahal,abu lahab,dan semua penentang Nabi di zaman itu.Jelas mereka bukan disebut dengan sahabat,meski nasab genetisnya terhubung dengan Nabi saw





Murid meniscayakan pertemuan fisik,dan kesamaan pemahaman,bahkan sekaligus ikatan batiniahnya.Pengikut,derajatnya dibawahnya,ia tidak meniscayakan pertemuan fisik,tapi kesamaan pemahaman dan ikatan emosional.Diatas tingkatan murid adalah mereka yang memiliki nasab genetis dengan guru,sekaligus ikatan pemahaman  yang sejalur serta  batiniah yang terhubung.Jadi kalo dalam dunia Pesantren Nahdhatul Ulama,yang merupakan representasi pendidikan Ahlussunnah waljammah,hirarkinya seperti ini;Kiyai-Gus-Santri-Simpatisan.





Jika ujug-ujug tanpa bertemu fisik,ngaku-ngaku murid,jelas ia telah keluar dari tradisi nasabiyah diatas.Internet memang banyak menyajikan kemudahan mengakses konten-konten keilmuan,syukur jika belajar otodidak dengan membaca informasi di dalamnya yang sepemahaman dengan tradisi Ahlussunnah, jika yang dibaca di luar dari tradisi itu terus masih ngaku-ngaku berguru langsung ke sang Nabi,anda bisa menyimpulkannya sendiri.Kembali ke pesan penting Abu Yazid al-Bustomi diatas.Secara Syariat mengaku berguru langsung kepada Nabi saw yang hidup 1400 tahun lebih yang lalu,jelas tidak ada dalilnya,oleh karena itu jangan percaya lebih baik tinggalkan,suruh bertobat dan belajar lebih intens apa itu Ahlussunnah waljamaah





Murid meniscayakan adanya pertemuan fisik dalilnya kisah Uwais al-Qorni diatas.Pengikut meniscayakan pemahaman yang sejalur.Jika bertemu fisik tidak,kemudian pemahamannya tidak sejalur dengan Ahlussunnah waljamaah lagi.Anda bisa menyimpulkan termasuk golongan apa orang tersebut.





Tidak pernah nyantri di pondok pesantren asuhan Kiyai Syamsul arifin misalnya,tidak pernah bertemu secara fisik dengan beliau,tiba-tiba ngaku santri beliau.Pemahamannya hanya berdasarkan info-info di media yang tidak jelas sumbernya atau berdasarkan asumsi pribadi belaka dan kata ‘jarene’.Ironinya malah bertolak belakang dengan apa yang diajarkan oleh Kiyai Syamsul Arifin.Untuk disebut simpatisan jelas bukan karena sudah tidak sepemahaman,mungkin masih bisa mendaftar sebagai simpatisan dengan syarat bertobat dan memperbaiki cara pandangnya yang keluar dari tradisi.Untuk disebut santri beliau,jelas tidak sejalan dengan arus pemikiran dan tradisi pesantren.





Boleh-boleh saja kita menambah wawasan dan pengetahuan tentang agama dari media internet,tapi harus dengan sumber yang jelas dengan pemahaman dan tokoh-tokohnya yang sejalur dengan Ahlussunnah waljamaah.Seperti yang pernah dinyatakan oleh Habib Umar bin Hafidz dalam sebuah vidionya.





Hal tersebut tentu berlaku bagi yang sudah kenal dan tahu sedikit-banyak apa itu ahlussunnah waljamaah.Bagi yang baru kenal Islam belajar otodidak di internet penuh dengan resiko penyempalan dan mis-konsepsi,berhubung konten-konten bertaburan didalamnya banyak diwarnai berbagai aliran pemikiran dan paham-paham menyesatkan.Jika benar-benar ingin meperdalam Islam dengan aman belajarlah kepada Kiyai di Pesantren yang nasab keilmuaannya jelas dan bisa dipertanggungjawabkan tidak hanya dunia melainkan akhirat juga.Nanti Kiyai akan membimbing dengan memberikan pemahaman dan kitab-kitab apa yang harus dibaca.





Setelah Dasar pemahaman itu kuat,maka melayari dunia internet kita dapat memilih,dan memilah mana yang sesuai dan mana yang tidak,mana yang meningkatkan nalar pemahaman,mana yang justru harus dikritisi karena konten yang menjerumuskan.Internet seperti kehidupan bermasyarakat terdiri dari;orang yang sukanya mengadu domba,menebar kebencian,dan ada juga yang pura-pura baik tapi dengan maksud menjerumuskan.





Hati-hati,dan berwaspadalah,kuatkan pondasi pemahaman yang benar terlebih dahulu sebelum mengambil pelajaran agama dari internet,karena ini menyangkut dua aspek;dunia dan akhirat.





-Penulis adalah alumnus Pondok Pesatren al-Falah, Jember.




Sumber dari Website LP Maarif PWNU Jawa Tengah

List Komentar

Tulis Komentar

Email Anda tidak ditampilkan dipublik. Semua wajib diisi.