IMG-LOGO
Flash News :
Puisi

Sajak-Sajak Isbedy Stiawan ZS

oleh Admin - 1 detik yang lalu Dilihat 59 kali 0 Komentar
IMG

Matahari Dari Alis Matamu





seekor burung keluar
cukup lama di belantara
hujan menerbangkannya
sampai di halamanku ini





kicaunya amat kuhapal





jemarinya yang membekas
di pintu rumahku, mengabarkan
datangnya karena rindu





apakah akan menetap di bubungan
ingin melabuhkan sayapnya
                               yang letih?





atau hanya ingin pergi dari
hutanhutan, setelah tahu
di sini percintaan bagaikan
menghirup kopi waktu pagi





matahari bercahaya dari alis mata










Cerita Yang Tak Kuberi Judul





masih ingat di mana kusimpan
anak kunci saat aku pamit dan
kau hanya berdiri di balik pintu





  matamu lurus ke luar, kosong
langit kala itu hitam. aku  ingin
      mengatakan di mana anak
    kunci kuletakkan, tapi hujan
  datang tibatiba dan aku tidak
  ingin ditelikung hunjaman air





            aku menghindar basah
  sedang kau tak mau bersedih





     “anak perempuan tak harus
             akrab dengan air mata,”
                                       katamu





         “lanang pantang berduka
              untuk cinta sekalipun!”





  ingin kubalas dengan kata itu
  tapi aku tidak mampu sendiri
mencar alamat, menyusuri liku
        jalan samar tak beralamat





050121










Masih Ada Mimpi





masih ada mimpiku
ketika terbangun
dan matahari
menagih pulang:
tadi aku daki gunung
ribuan lembar kertas
melayang. kuburu karena
kukira adalah puisipuisi
yang sudah jadi
untuk maharku padamu,
kekasih, yang kupilih
dari banyak kuntum bunga





taman yang dulu menerima
sepasang kekasih selepas
                        penciptaan,





aku menunggumu di sini pula
dengan puisipuisi dari mimpi
yang kubawa kini





duh, aku...










Sehabis Pertikaian





sehabis pertikaian itu,
kekasih,
kita lanjutkan percintaan
: demikian sememangnya,
ada tanding siaplah bersanding





di kuade yang indah kita duduk
-- hanya berdua -- seperti ratu
dan raja, menunggu tamu
serta hulubalang. mereka
bercerita tentang perkelahian,
kelahiran, juga pelukan mesra





di sini tiada pertikaian abadi
perebutan kursi berabadabad
tiada caci hingga dalam mimpi





tiada tafsir yang gundah





jika pun kita di istana ini
sebab takdir mengantar





jika pun kita terlunta
karena salah menduga





lalu kita ambil dan memakan
lalu dikurung seribu setan





ah!










Penjaga Pintu





betapa kutahu
catatanmu
hanya kenangan





betapa kumaklumi
kenanganmu
cuma ingatan





sesaat





lalu sekarat





di akar rumput
adakah maut?





catatanmu
hanya yang kau ingat
terlalu dekat
dari urat lehermu





yang jauh,
tak berdegup





yang jauh,
bagai sauh:





mencari labuh





diam kau di situ
yang datang kau tunggu
untuk buka tutup pintu





selebihnya
derap langkah










*Isbedy Stiawan ZS, lahir di Tanjungkarang, Lampung, dan sampai kini masih menetap di kota kelahirannya. Ia menulis puisi, cerpen, dan esai juga karya jurnalistik. Dipublisakan di pelbagai media massa terbitan Jakarta dan daerah, seperti Kompas, Republika, Jawa Pos, Suara Merdeka, Pikiran Rakyat, Lampung Post, Media Indonesia, Tanjungpinang Pos, dan lain-lain.





Buku puisinya, Kini Aku Sudah Jadi Batu! masuk 5 besar Badan Pengembangan Bahasa Kemendikbud RI (2020), Tausiyah Ibu masuk 25 nomine Sayembara Buku Puisi 2020 Yayasan Hari Puisi Indonesia, dan Belok Kiri Jalan Terus ke Kota Tua dinobatkan sebagai 10 buku puisi pilihan Tempo (2020)




Sumber dari Website LP Maarif PWNU Jawa Tengah

List Komentar

Tulis Komentar

Email Anda tidak ditampilkan dipublik. Semua wajib diisi.